Senin, 18 Mei 2015

Memperbaiki Diri

Sahabat

Mati adalah awal kehidupan. Hidup
adalah pangkal kematian. Hidup dan
mati, datang silih berganti, tidak
ada yang kekal abadi. Itulah hukum
alam yang hakiki. Oleh sebab itu,
jangan takut mati, jangan mencari mati.

Selama hidup, lebih baik bersegeralah
perbanyak kebaikan, syukuri diri
dalam keadaan apapun, dan tahu diri
di manapun. Bebas, lepas, tidak
terikat dan melekat, cerah ceria,
berpikir optimis dan positif setiap
saat, insyaallah hidup senang, mati
tenang. :-)


Kisah Nyata...


Pagi itu seorang pria menjalani
rutinitasnya seperti biasa. Sebagai
seseorang yang mempunyai relasi luas
dan sibuk, ia selalu menyempatkan
diri untuk membaca kolom pengumuman
termasuk juga kolom berita kematian.

Tiba-tiba matanya membaca sebuah
berita, berita yang sangat
mengejutkan dan membuat bulu kuduknya
merinding. Ia sedang membaca berita
kematiannya sendiri.

Pria ini terhenyak, ia lalu bertanya
kepada dirinya sendiri, apakah ia
masih hidup? Apakah saat ini ia ada
di dunia atau di alam baka?

Saat ia menyadari bahwa ada sebuah
kesalahan dalam berita ini, mungkin
karena memiliki nama yang sama,
pastilah redaksi koran ini telah
melakukan kesalahan.

Namun karena rasa penasaran ia pun
melanjutkan membaca berita tersebut.
Ia ingin tahu apa tanggapan orang
mengenai dirinya.

Dalam artikel itu ia disebut dengan
panggilan 'raja dinamit' telah wafat.
Pada bagian lain ia juga disebut
sebagai 'partner dewa kematian'.

Ia terkejut bukan kepalang, apakah
seperti ini dirinya akan dikenang
oleh orang-orang?

Kejadian ini membuka pikirannya, ia
lalu memutuskan bahwa ia tidak ingin
dikenang seperti itu. Ia bertekad
mulai saat itu juga ia akan berjuang
demi kedamaian dan kemanusiaan.

Begitulah akhirnya, pria yang bernama
Alfred Nobel ini dengan tekadnya ia
berusaha hingga pada akhirnya namanya
diabadikan dalam hadiah
perdamaian--yaitu Nobel Prizes.

Bagaimana dengan Anda? Seperti apa
Anda ingin dikenang oleh orang-orang
yang Anda tinggalkan? Warisan apa
yang akan Anda sumbangsihkan demi
mashlahat umat banyak? Apakah
orang-orang akan mengingat Anda
dengan penuh cinta dan rasa hormat?


Mari kita bersegera lakukan sebanyak
kebaikan
, mulai hari ini, detik ini, 
saat ini juga.

Think & Succeed!

"Siapapun yang bergosip padamu, akan
bergosip tentang dirimu"- Pepatah Spanyol

Dear blogger

Anda pasti pernah mendengar pepatah
ini;  bahwa orang-orang besar senang
berbicara tentang ide-ide, sementara
orang biasa-biasa suka berbicara
tentang diri mereka sendiri dan
orang-orang kecil suka berbicara
tentang orang lain.

Itulah gosip. Gosip membuat orang
menjadi kecil. Tidak ada sesuatu yang
bisa ditawarkan  dalam gosip. Gosip
hanya mengurangi kredibilitas orang
membicarakan dan yang dibicarakan
serta bisa menghancurkan orang yang
mendengarkan.

Berhenti menyebarkan gosip dan
menjadi penerima gosip. Jika Anda
menghentikan gosip yang diteruskan
hanya sampai pada Anda, Anda akan
memperbaiki kehidupan orang lain dan
diri Anda lebih baik lagi.

Lagipula, orang yang menceritakan
gosip pada kita, biasanya akan
menggosipkan kita juga.

Orang yang memiliki integritas tidak
suka mengumbar omongan tentang orang
lain di belakangnya. Jika memiliki
masalah dengan seseorang, ia lebih
baik mendatangi orang tersebut dan
membicarakan masalahnya, tidak pernah
melalui orang ketiga.

Mereka juga akan memuji orang secara
terbuka dan mengkritik orang secara
pribadi.

Jika Anda adalah orang besar,
berhentilah membicarakan orang lain
dan mari membicarakan ide-ide besar

yang bisa mengubah dunia! :-)



POLA KEMITRAAN

Bentuk- bentuk pola kemitraan  antara lain:

1.             Pola kemitraan inti plasma
Pola ini merupakan hubungan antara petani, kelompok tani , atau kelompok mitra sebagai plasma dengan perusahaan inti yang bermitra uasha. Perusahaan inti menyediakan lahan , sarana produksi , bimbingan teknis, manajemen, menampung dan mengolah , serta memasarkan hasil produksi. Sementara itu kelompok mitri bertugas memenuhi kebutuhan perusahaan inti sesuai dengan persyeratan yang telah ditentukan.
a.     Keunggulan system inti-plasma
-         Tercipta saling ketergantungan dan saling memperoleh keuntungan
-         Tercipta peningkatan usaha
-         Dapat mendorong perkembangan ekonomi

b.    Kelemahan system inti-plasma
Pihak plasma masih kurang memahami hak dan kewajibannya sehingga kesepakatan yang telah ditetapkan berjalan kurang lancer.contoh produk plasma sering tidak dijual ke prusahaan inti.
-         Komitmen perusahan inti masih lemah dalam memenuhi fungsi dan kewajibannya sesuai dengan kesepakatan yang diharapkan plasma.
-         Belum ada kontrak kemitraan yang menjamin hak dan kewajiban komoditas plasma sehingga terkadang perusahaan inti mempermainkan harga komoditas plasma.
Solusi
a.                 Pemahaman tingkat ekonomi dan skala usaha
b.                 Kesepakatan atau perjanjian
c.                  Kemampuan investasi perusahaan inti


2.       Pola kemitraan subkontrak
Keunggulan
Pola subkontrak ditandai dengan adanya kesepakatan tentang kontrak bersama ang mencakup,volume, harga , mutu, dan waktu.
Kelemahan
a.     Hubungan subkontrak yang terjalin semakin lama semakin mengisolasi produsen kecil dan mengarah ke monopoli atau monopsoni terutama dalam penyediaan bahan baku serta dalam hal pemasaran
b.     Berkurangnya nilai-nilai kemitraan kedua belah piahak
c.      Control kualitas produk ketat tapi tidak diimbangi dengan system pembayaran yang tepat
Solusi
a.     Asosiasi kelompok mitra yang terdiri dari beberapa usaha kecil perlu dikembangkan
b.     Komponen – komponen kemitraan seperti pengembangan SDM, inovasi teknologi,manajemen, dan permodalan harus diperthatikan
c.      Menumbuhkan rasa saling percaya antara perusahaan mitra dengan kelompok mitra dan sesame anggota kolompok mitra

3.   Pola kemitraan dagang umum

Keunggulan
Kelompok mitra atau koperasi tani berperansebagai pemasok kebutuhan yang diperlukan perusahaan mitra. Sementara itu perusahaan mitra memasarkan produk mitra ke konsumen. Kondisi tersebut menguntungkan kelompok mitra karena tidak perlu bersusah payah memasarkan hasil produknya sampai ke tangan konsumen
Kelemahan
a.     Dalam praktiknya , harga dan volume produknya sering ditentukan sepihak oleh pengusaha mitra sehingga merugikan pihak kelompok mitra
b.     System perdagangan sering kali ditemukan berubah menjadi bentuk konsiyansi.
Solusi
a.     Perlunya peningkatan komitmen perusahaan besar untuk menerapkan prinsip-prinsip bermitra usaha
b.     Mengembangkan asosiasi kelompok mitra, contoh gapoktan

4.  Pola kemitraan keagenan
keunggulan
pola ini memungkinkan dilaksanakan oleh para pengusaha kecil ang urang kuat modalnya karena biasanya menggunakan system mirip konsinyasi
kelemahan
a.     Usah kecil mitra menetapkan harga produk secara sepihak sehingga harga menjad tinggi di tingkat konsumen
b.     Usaha kecil sering memasarkan produk dari beberapa mitra usaha saja sehingga kurang mampu membaca segmen pasar dan tidak memenuhi target
Solusi
Perlunya peningkatan profesionalisme, kepiawaian dalam mencari pelangganserta memberikan pelayanan yang memuaskan kepada konsumen

5. Pola kemitraan kerja sama operasional agribisnis (KOA)
keungulan pola koa ini sama dengan keunggulan system inti-plasma. Pola ini banyak ditemukan pada masyarakat pedesaan antara usaha kecil di desa dengan usaha rumah tangga dalam bentuk bagi hasil
kelemahan
a.     pengambilan untung olaeh perusahaan mitra yang menangani aspek pemasaran dan pengolaan produk terlalu besar sehingga dirasakan kurang adil oleh kelompok usaha kecil mitranya
b.     perusahaan mitra cenderung monopsoni sehingga memperkecil keuntungan yang diperoleh perusahaan kecil mitranya
c.      belum ada pihak ketiga yang berperan efektif dalam memecahkan permasalahan diatas
solusi
-         penyelesaian humanistis dan kekeluargaan.

PENGEMBANGAN PEREKONOMIAN BERBASIS AGRIBISNIS

Secara kuantitatif pelaksanaan pembangunan di daerah Riau telah mencapai hasil yang cukup baik seperti yang terlihat dari data tingkat pertumbuhan ekonomi. Selama periode 2002-2007 pertumbuhan ekonomi Riau sebesar 8,40%, pertumbuhan yang tinggi ini ditopang oleh sektor pertanian khususnya subsektor perkebunan.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu mencerminkan distribusi pendapatan yang adil dan merata, karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini hanya dinikmati oleh sekelompok kecil masyarakat, seperti masyarakat perkotaan, sedangkan masyarakat pedesaan atau pinggiran mendapat porsi yang kecil dan tertinggal. Kesenjangan di daerah ini semakin diperburuk karena adanya kesenjangan dalam pembangunan antar sektor, terutama antara sektor pertanian (basis ekonomi pedesaan) dan non-pertanian (ekonomi perkotaan). Pada tahun 1996 sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi rakyat pedesaan Riau hanya mengalami pertumbuhan sebesar 2 % sementara sektor industri melaju sebesar 14 persen. Namun pada tahun 2002 sektor pertanian sudah mulai membaik dengan angka pertumbuhan sebesar 6,06 persen, sedangkan sektor industri 12,47 persen. Selama periode 2002-2007 pertumbuhan sektor pertanian cukup baik yaitu sebesar 6,79. Tingginya pertumbuhan sektor pertanian karena ditunjang oleh tanaman perkebunan yang berorientasi ekspor seperti kelapa sawit, karet, kelapa dan sebagainya (Syahza A, 2007a).

Guna memacu pertumbuhan ekonomi khususnya di pedesaan, Pemerintah Daerah Riau mencanangkan  pembangunan melalui program pemberantasan kemiskinan, kebodohan dan pembangunan  infrastruktur (lebih dikenal dengan program K2I). Program K2I  ini mengacu kepada Lima Pilar Utama pembangunan Daerah Riau sebelumnya, yaitu:

1) pembangunan ekonomi berbasiskan kerakyatan;
2) pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia;
3) pembangunan kesehatan/olahraga;
4) pembangunan/kegiatan seni budaya;
5) pembangunan dalam rangka meningkatkan iman dan taqwa.

Pembangunan ekonomi kerakyatan difokuskan kepada pemberdayaan petani terutama di pedesaan, nelayan, perajin, dan pengusaha industri kecil. Setiap pembangunan yang dilaksanakan di Daerah Riau harus mengacu kepada Program K2I. Karena pembangunan daerah sangat ditentukan oleh potensi yang dimiliki oleh suatu daerah, maka kebijaksanaan yang dibuat oleh pemerintah daerah harus mengacu kepada potensi daerah yang berpeluang untuk dikembangkan, khususnya sektor pertanian. Potensi tersebut antara lain:

1)      pengembangan tanaman hortikultura;
2)      pengembangan tanaman perkebunan;
3)      pengembangan usaha perikanan;
4)      pengembangan usaha peternakan;
5)      pengembangan usaha pertambangan;
6)      pengembangan sektor industri;
7)      potensi keparawisataan.

Pengembangan sektor pertanian dalam arti luas harus diarahkan kepada sistem agribisnis dan agroindustri, karena pendekatan ini akan dapat meningkatkan nilai tambah sektor pertanian, yang pada hakekatnya dapat meningkatkan pendapatan bagi pelaku-pelaku agribisnis dan agroindustri di daerah. Oleh karena itu, dalam upaya pemberdayaan ekonomi rakyat, keberpihakan pada pembangunan sektor agribisnis secara nasional perlu disertai dengan suatu mekanisme yang menjamin bahwa manfaat pembangunan dapat dinikmati oleh rakyat.

Ketidakberdayaan masyarakat pedesaan salah satunya akibat kebijakan yang mismatch di masa lalu, yaitu kebijakan yang melupakan sektor pertanian sebagai dasar keunggulan komparatif maupun kompetitif. Sesungguhnya pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan bukan hanya bermanfaat bagi masyarakat pedesaan itu sendiri, tetapi juga membangun kekuatan ekonomi Indonesia berdasarkan kepada keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimiliki (Basri Y.Z, 2003).

Dari apa yang digambarkan di atas, maka untuk memajukan ekonomi di daerah sebagai percepatan pembangunan ekonomi yang berbasis kerakyatan, maka perlu dikembangkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian masyarakat. Berkembangnya koperasi di daerah diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi di daerah dan sekaligus meningkatkan ekonomi di daerah pedesaan. Untuk itu perlu dilakukan suatu kajian yang dapat memberikan masukan untuk kebijakan pengembangan koperasi di daerah Riau. Dari sisi lain Wijaya S (2002) mengungkapkan, manfaat berkoperasi:

1.  membantu meningkatkan standar sosial ekonomi di daerah dengan memanfaatkan potensi dan penyerapan tenaga kerja
2.      bermanfaat langsung, karena sesuai dengan kehidupan masyarakat pedesaan;
3.      ekonomi pedesan bisa tumbuh karena koperasi berakar kuat di pedesaan.

   Penelitian ini mencoba mengidentifikasi bagaimana percepatan pembangunan ekonomi masyarakat melalui pengembangan koperasi berbasis agribisnis di daerah pedesaan. Untuk itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyusun rencana strategis pengembangan dunia usaha melalui koperasi berbasis agribisnis untuk percepatan peningkatan ekonomi daerah pedesaan. Setelah penelitian ini dilakukan, diharapkan dapat memberikan masukan kepada pelaku-pelaku bisnis dan pembuat kebijakan pada tingkat kabupaten

PENGENALAN BAKTERI DAN PEWARNAAN GRAM

A.    TUJUAN PRAKTIKUM
1.      Penataan sel bakteri
·         Mahasiswa dapat mengambil contoh-contoh penataan sel bakteri.
·         Mahasiswa dapat membedakan beberapa penataan sel bakteri yangberbeda.
2.      Pewarnaan gram
·         Mahasiswa mampu mengamati dan menyiapkan preparat pewarnaan bakteri untuk keperluan karakterisasi.

B.     DASAR TEORI
Dinding sel tersusun dari peptidoglikan yaitu gabungan protein dan polisakarida (ketebalan peptidoglikan membagi bakteri menjadi bakteri gram positif bila peptidoglikannya tebal dan bakteri gram negatif bila peptidoglikannya tipis). Membran plasma adalah membran yang menyelubungi sitoplasma tersusun atas lapisan fosfolipid dan protein, bersifat semipermeable, berfungsi untuk mengatur keluar masuknya zat ke dalam sel. Sitoplasma adalah cairan sel, merupakan tempat berlangsungnya reaksi metabolik.
Ribosom adalah organel yang tersebar dalam sitoplasma, tersusun atas protein dan RNA.sebagai tempat sintesis protein. Granula penyimpanan, karena bakteri menyimpan cadangan makanan yang dibutuhkan. Mesosom terbentuk dari membran sel yang tidak membentuk lipatan. Organel ini berfungsi sebagai pengganti mitochondria. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu, bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel.
Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel, pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek, kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Endospora mengandung sedikit sitoplasma, materi genetik, dan ribosom. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan, radiasi cahaya, suhu tinggi dan zat kimia. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru.
Pewarnaan gram atau metode gram adalah suatu metode empiris untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yaitu gram positif dan gram negative, berdasarkan sifat kimia dan  fisik dinding sel mereka. Metode tersebut diberi nama berdasarka penemunya ilmuwan Denmark, Hans Christian Gram (1853-1938) yang mengembangkan teknik tersebut pada tahun 1884 untuk membedakan antara Pneumococcus dan bakteri Klebsiella pneumonia (Karmana 2008).
Bakteri garam positif adalah bakteri yang mempertahanka zat warna metil ungu atau Kristal ungu sewaktu proses pewarnaan gram. Bakteri jenis tersebut akan berwarna biru atau ungu di bawah mikroskop, sedangkan bakteri gram negative akan berwarna merah muda atau merah. Perbedaan klasifikasi antara kedua jenis bakteri tersebut terutama didasarkan pada perbedaan struktur dinding sel bakteri (Karmana 2008).
Bakteri gram negative adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu atau kristal ungu pada metode pewarnaan gram. Bakteri gram positif akan mempertahankan warna ungu gelap setelah dicuci dengan alcohol, sementara bakteri gram negative tidak. Pada uji pewarnaan gram, suatu pewarna penimbal (counterstain) ditambahkan setelah metal ungu atau Kristal ungu, yang membuat semua bakteri gram negative menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian tersebut berguna untuk mengklasifikasikan  kedua tipe bakteri tersebut berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka (Karmana 2008).
Metode pewarnaan spora berfungsi untuk mempermudah pengamatan agar peneliti atau pengamat mampu melihat spora, membedakan dengan sel vegetative ataupun mengamati bentuknya. Endospora tidak mudah diwarnai dengan zat pewarna pada umumnya. Hal tersebut yang menjadi dasar dari metode pengecatan endospora dengan larutan hijau malasit. Metode Shaeffor, foton endospora diwarnai pertama dengan larutan hijau malasit. Pengecatan tersebut sifatnya kuat karena dapat berpenetrasi ke dalam endospora dengan perlakuan larutan hijau malasit. Teknik tersebut akan menghasilkan warna hijau pada endospora dan merah pada sel vegetative (James 2002).
C.    BAHAN DAN ALAT
1.      Penataan sel bakteri
·         Bahan :
o   Biakan bakteri (streptococcus) dalam medium cair,
o   Laktofenol biru
o   Alcohol
o   Aquades

·         Alat :
o   Ose
o   Pipet tetes
o   Gelas obyek
o   Gelas penutup
o   Lampu spirtus

2.      Pewarnaan gram
·         Bahan :
o   Biakan bakteri berumur 18-24 jam
o   Pewarna A (cristal violet 2% + ammonium oxylat 1%)
o   Penguat B (11% + K1 2%)
o   Peluntur C (etanol 70%,)
o   Pewarna D (safranin 2,5% dalam alcohol)
o   Alkohkol 90%
·         ALAT :
o   Gelas obyek
o   Tabung reaksi
o   Ose
o   Pinset
o   Stopwatch
o   Botol semprot
o   Lampu spirtus
o   Microscope


D.    CARA KERJA

1.      Penataan sel bakteri
o   Gelas obyek di bersihkan dengan menggunakan alcohol 90% sampai bebas debu dan lemak.
o   Ambil satu ose biakan bakteri dalam medium cair dan teteskan ke gelas obyek, kemudian tetesi laktofenol biru.
o   Tetesan biakan tanpa di ratakan langsung di tutup dengan gelas penutup
o   Amati bagaimana penataan sel satu dengan yanglain nya

2.      Pewarnaan gram
o   Biaka bakteri yang telah berumur 48 jam atau lebih dibuat suspense dalam aquades steril.
o   Secara aseptic di ambil 1, suspensi bakteri dan di letakkan di atas gelas obyek kemudian di ratakan menjadi lebih kurang ½ cm2
o   Supaya bakteri dapat lengket pada gelas obyek, di lakukan fiksasi dengan cara melewatkan beberapa kali di atas nyala lampu spirtus sampai suspense benar benar mongering tanpa mendidih.
o   Setelah suspensi kering kemudian di tetesi dngan pewarna A(Kristal violet) sebanyak 2 tetes dan didiamkan selama 1 menit.
o   Setelah 1 menir, pewarna A yang menggenang di buang dan di tetesi dengan penguat B sebanyak 1 tetes dan diamkan 1 menit lagi.
o   Setelah satu menit, pewarna pada obyek gelas dibilas dengan air yang di semprotkan sampai aquades yang yang di semprotkan menetes dan jernih.
o   Pewarna pada obyek gelas di tetesi peluntur C sebanyak 3 tetes dan didiamkan selama 10-20 detik dan segera di bilas dengan menggunakan air yang di semprotkan dari botol semprot sampai aquades yang menetes menjadi jernih.
o   Obyek gelas di tiriskan sampai kering angin kemudian di tetesi dengan pewarna D (safranin) sebanyak 2 tetes dan diamkan selama 1 menit.
o   Setelah 1 menit, pewarna pada obyek gelas dibilas dengan menggunakan air yang di semprtkan dari botol semprot sampai air yang menetes menjadi jernih kemudian di tiriskan sampai kering angin, sehingga di peroleh preparat pewarnaan gram.
o   Preparat di amati dengan menggunakan microscope pada pembesaran sedang (10x40) dan pembesaran kuat (10x 100). Bakteri gram fositif akan berwana ungu sedangkan bakteri gram negative akan berwarna merah.

E.     DATA HASIL PRAKTIKUM

F.     PEMBAHASAN
Dalam praktikum penataan sel kali ini kami mendapatkan hasil penataan dimana penataan ini di ambil dari biakan saccharomyces, dan dalan percobaan ini juga kami menemukan hasil yang berbentuk bulatan berwarna biru dengan perbesaran 10x10.
Dalam prakltikum pewarnaan bakteri ini kami mendapatkan hasil sebagai warna sel bakteri ungu sehingga bakteri tersebut dalam bentuk gram, bakteri yang agak jarang, dan tidah rapat-rapat seperti yangada di buku penuntun, dalam percobaab ini kami menggunakan percobaan 10x10 untuk mendapatkan hasil tersebut.
Dan dalam percobaaaan koloni bakteri ini kami menemukan hasil bulat dengan pinggiran nya seperti ada bulat-bulatan seperti gelembung dan di tengah seperti bulat lonjong, dan di pelaksanaan praktikum ini kami mendapatkan hasil dengan bentuk koloni melingkar/bulat, bentuk tepi koloni fildanen, struktur di dalam transparan dan agak-agak putih dan elevasi koloni cembung.



G.    KESIMPULAN
eKetika sel telah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru maka sel mulai membelah hingga mencapai populasi yang maksimum. Fase ini disebut fase logaritma atau fase eksponensial. Fase eksponensial ditandai dengan terjadinya periode pertumbuhan yang cepat. Setiap sel dalam populasi membelah menjadi dua sel. Variasi derajat pertumbuhan bakteri pada fase eksponensial ini sangat dipengaruhi oleh sifat genetik yang diturunkannya. Selain itu, derajat pertumbuhan juga dipengaruhi oleh kadar nutrien dalam media, suhu inkubasi, kondisi pH dan aerasi. Ketika derajat pertumbuhan bakteri telah menghasilkan populasi yang maksimum, maka akan terjadi keseimbangan antara jumlah sel yang mati dan jumlah sel yang hidup. Faktor lingkungan  yang mempengaruhi pertumbuhan microorganism.
Bakteri garam positif adalah bakteri yang mempertahanka zat warna metil ungu atau Kristal ungu sewaktu proses pewarnaan gram. Bakteri jenis tersebut akan berwarna biru atau ungu di bawah mikroskop, sedangkan bakteri gram negative akan berwarna merah muda atau merah. Perbedaan klasifikasi antara kedua jenis bakteri tersebut terutama didasarkan pada perbedaan struktur dinding sel bakteri.
Metode pewarnaan spora berfungsi untuk mempermudah pengamatan agar peneliti atau pengamat mampu melihat spora, membedakan dengan sel vegetative ataupun mengamati bentuknya. Endospora tidak mudah diwarnai dengan zat pewarna pada umumnya. Hal tersebut yang menjadi dasar dari metode pengecatan endospora dengan larutan hijau malasit. Metode Shaeffor, foton endospora diwarnai pertama dengan larutan hijau malasit. Pengecatan tersebut sifatnya kuat karena dapat berpenetrasi ke dalam endospora dengan perlakuan larutan hijau malasit. Teknik tersebut akan menghasilkan warna hijau pada endospora dan merah pada sel vegetative.




DAFTAR PUSTAKA
Schlegel, Hans. 1994. Mikrobiologi Umum Edisi Keenam. Gajah Mada University Press,
Yogyakarta.
Stanier Roger. Edward Alderberg dan John Ingraham, 1982. Dunia Mikroba 1. Bharata Karya Aksara, Jakarta.
Suriawiria U, 1995. Pengantar Mikrobiologi Umum. Angkasa, Bandung.